Select Language

Showing posts with label Artikel Pilihan. Show all posts
Showing posts with label Artikel Pilihan. Show all posts

Friday, December 7, 2012

Pandangan Hidup Menurut Prof Naquib Al-Attas (1)





oleh: Fiqih Risalah

KEMANA kah hidup kita yang singkat ini harus diarahkan? Pertanyaan yang remeh ini kiranya sesuai diutarakan kembali untuk melihat kondisi umat Islam di belahan bumi manapun yang sedang dilanda krisis akut dewasa ini. Identitas seorang Muslim semakin hari semakin ter-“Barat”-kan, dalam hal ini aspek yang sangat mendasar ialah pola pikirnya. Jika hal ini yang terjadi maka yang perlu dicermati dari krisis utama umat ini adalah krisis keilmuan yang tidak lagi mengindahkan wahyu ilahi sebagai landasan filosofisnya.

Thursday, December 6, 2012

Akar Historis Dualisme dalam Sistem Pendidikan di Indonesia


Abstract

This article is discussing about basic of historical dualism in the system of education in Indonesia. In general, the idea is that, for some particular domain, there are two fundamental kinds or categories of things or principles.   In the philosophy of mind, dualism is the theory of mental and the physical — or mind and body or mind and brain —Historically, the embryo of educational dualism in Islamic world was begun since the Islamic world have expanded with the Western colonialization. In muslim countries,  the two systems which have been operating are traditional or religious education and the secular or pragmatic education. 

Saturday, May 12, 2012

Gender

“Tidak adil” dan “tertindas” adalah dua bekal gerakan feminism dan kesetaraan gender. Wanita diseluruh dunia ini dianggap tertindas dan diperlakukan secara tidak adil. Wajah peradaban umat manusia memang diwarnai oleh dua kata tersebut. Tapi masing-masing peradaban memiliki solusi masing-masing.

Monday, March 26, 2012

Hikmah Puisi Prof. Wan

Jum'at, 24 Februari 2012
Oleh: Dr. Adian Husaini
BUKU kumpulan puisi Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud yang berjudul “Mutiara Taman Adabi: Kumpulan Puisi Mengenai Agama, Filsafat dan Masyarakat", (Kota Bharu: Dian Darulnaim, 2003) sudah bertahun-tahun tersimpan diperpustakaan pribadi saya.  Sudah beberapa kali buku ini saya baca.  Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari buku yang diberi kata sambutan oleh salah satu sastrawan terkemuka Malaysia, Mohd Affandi Hassan, ini.

Berikut ini kita petikan sejumlah hikmah yang sarat makna dari sejumlah puisi Prof. Wan Mohd Nor. Saya merasa tidak perlu memberikan syarahan terhadap puisi-puisi berikut ini, karena maknanya cukup gamblang dan jelas, meskipun tetap memerlukan perenungan yang mendalam untuk menghayatinya.
Prof Wan Mohd Nor kini menduduki jabatan penting sebagai Direktur Center for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilisation (CASIS) di Universiti Teknologi Malaysia. Semoga kita mampu mengambil hikmah untuk menghadapi berbagai tantangan pemikiran yang carut-marut di negeri kita akhir-akhir ini. 

Sunday, March 25, 2012

Lawrence Kohlberg, Inisiator Pendidikan Karakter yang Mati Bunuh Diri

Selasa, 04/10/2011 12:34 WIB | Arsip | Cetak


“Lihat tuh negara Barat, kotanya Indah, masyarakatnya disiplin, transportasi berjalan lancar, beda dengan negara-negara muslim. Jadi mana yang lebih Islami, Barat atau kita?”
Ucapan diatas dikatakan salah seorang guru kepada muridnya beberapa waktu lalu. Berdiri di depan kelas, ia secara bersemangat membandingkan pola kehidupan masyarakat Barat dan Timur (baca: Islam) yang terlihat begitu kontras. Untuk menguatkan apa yang dilihatnya, sang guru pun memutar slide foto pasca pengembaraanya ke Amerika, lalu bertanya kepada para muridnya, “Bersih mana dengan Jakarta?”
Nama Lawrence Kohlberg mulai melambung di tengah-tengah masyarakat setelah gagasan Pendidikan Karakter meledak di pasaran edukasi. Dalam konsep itu, Kohlberg menekankan rasa kejujuran, tanggungjawab, dan kepercayaan diri bagi siswa untuk mengatasi masalah.

Filosofi Menutup Aurat

Moeflich Hasbullah


“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang shaleh.” (Rasulullah SAW)
“Segala sesuatu ada penegurnya, dan penegur hati adalah rasa malu!” (Rasulullah SAW)
“Hilangnya rasa malu perempuan zaman sekarang adalah salah satu sumber kerusakan moral masyarakat, termasuk dalam masyarakat Muslim.” (Dina Katresna Gusti)


Mengapa perempuan Muslim harus menutup auratnya? Apakah karena wajib sebagaimana diperintahkan Allah dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi, dan kalau tidak melaksanakan berdosa? Benar, tapi mari kita kesampingkanlah dululah alasan perintah ini. Kita semua mafhum, melaksanakan sesuatu karena dasarnya wajib atau perintah menunjukkan kesadaran diri yang rendah. Mari kita mendasarkan pada kesadaran diri saja, mari memahami ini dengan akal sehat saja. Akal sehat tidak pernah bertentangan dengan agama. Bila kata akal sehat benar maka benarlah perintah agama, pantaslah Allah dan Rasul-Nya memerintahkannya. Kesadaran seperti ini akan lebih kuat menancap dalam hati dibandingkan yang dasarnya karena perintah.

Saturday, March 24, 2012

ALLAH

Goenawan Mohammad
Pada akhirnya Ia hanya Ilahi yang ditinggalkan.
*
ORANG sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Maka berabad-abad yang lalu, di kota-kota yang berbataskan gurun, di mana langit luas dan malam dihuni cerita dan rahasia, para rasul datang memperingatkan. Mereka mengecam berhala. Mereka mengecam doa yang membayangkan Tuhan sebagai –jika kita pakai kiasan hari ini– seraut pohon bonsai.
Berhala atau bonsai: sesuatu yang memikat justru karena diletakkan di sebuah kotak yang tetap, seakan-akan hidup, tapi sebenarnya hanya Tuhan yang diperkecil oleh manusia, sesembahan yang jauh dari hakikat Dia yang maha-agung.

Wednesday, March 21, 2012

Tak ada kedewasaan instan

Tak Ada Kedewasaan Instant
Top of Form





Bottom of Form
Jum'at, 16 Desember 2011
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim  

MAKANAN dan minuman boleh instant. Tanpa bersusah meracik, setiap orang bisa membuat mie dengan rasa yang sama. Tak ada bedanya kopi bikinan anak kecil dengan hasil seduhan orang dewasa. Sebabnya, mereka sama-sama pakai kopi instant. Tanpa perlu memahami karakter kopi, setiap orang bisa menghidangkan kopi dengan rasa yang cukup enak di lidah karena bahannya instant. Tetapi, samakah kopi instant dengan kopi yang diracik secara khusus oleh koki berpengalaman? Sangat berbeda. Sebagaimana berbeda sekali nilai dan harga sebuah jam tangan yang dibuat oleh tangan seorang ahli yang terampil dan berpengalaman dengan arloji pabrikan yang dalam waktu sehari bisa memproduksi ratusan dan bahkan ribuan keping.

Sunday, March 18, 2012

Islamic Science

Alparslan Acikgenc, Islamic Science: Towards a Definition 

One of the aims of defining Islamic Science is to generate theoretical understanding of and insight into the nature and meaning of the concept and enterprise of Islamic Science, and thus to formally differentiate it, to the extent possible, from other sciences, especially modern western science, or even from other salient manifestations of Islamic civilization, like Islamic Art. Of course formal definitions have their limits, but a basic working definition, if sound and critically accepted, can provide a degree of rigor, direction and coherence to a discourse that at times tends to be as disunified as the number of participants engaged in it, which is significant lately, mainly because, as Acikgenc himself realizes, "they did not first try to understand what he [al-Attas] meant by islamization" (p. 1).

Hence, this little book by Acikgenc (formerly of ISTAC and presently at Fatih University, Turkey) has been of considerable interest to participants in the ongoing discourse on Islamic Science. The book consists of an "Introduction" and three chapters entitled respectively "The Concept of Islamicity", "The Islamic Concept of Science" and "The Historical Background of Islamic Science". Many would see it as a courageous attempt at a conceptual understanding of Islamic science that may facilitate its revival as an existential reality, and thus they would like to see to what extent his attempt has been successful. Moreover as Acikgenc himself puts it, "... in order for science to perform its vital role in a society, and more specifically in a Muslim society, a clear definition of it must be provided by the 'ulama'," a.k.a. "scholars of Islam" (p. 4).