Select Language

Monday, March 26, 2012

Hikmah Puisi Prof. Wan

Jum'at, 24 Februari 2012
Oleh: Dr. Adian Husaini
BUKU kumpulan puisi Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud yang berjudul “Mutiara Taman Adabi: Kumpulan Puisi Mengenai Agama, Filsafat dan Masyarakat", (Kota Bharu: Dian Darulnaim, 2003) sudah bertahun-tahun tersimpan diperpustakaan pribadi saya.  Sudah beberapa kali buku ini saya baca.  Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari buku yang diberi kata sambutan oleh salah satu sastrawan terkemuka Malaysia, Mohd Affandi Hassan, ini.

Berikut ini kita petikan sejumlah hikmah yang sarat makna dari sejumlah puisi Prof. Wan Mohd Nor. Saya merasa tidak perlu memberikan syarahan terhadap puisi-puisi berikut ini, karena maknanya cukup gamblang dan jelas, meskipun tetap memerlukan perenungan yang mendalam untuk menghayatinya.
Prof Wan Mohd Nor kini menduduki jabatan penting sebagai Direktur Center for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilisation (CASIS) di Universiti Teknologi Malaysia. Semoga kita mampu mengambil hikmah untuk menghadapi berbagai tantangan pemikiran yang carut-marut di negeri kita akhir-akhir ini. 

Budaya Negeri-Negeri Dalam Dua Ekor Sapi


 

Sabtu, 24 Maret 2012

Oleh: Muhaimin Iqbal 

DAHULU waktu masih aktif bekerja sebagai eksekutif perusahaan orang lain, saya banyak berinteraksi dengan para pelaku usaha dari berbagai negara. Ada cara yang unique untuk membandingkan budaya usaha di masing-masing negara yaitu melalui joke. Nampaknya sederhana dan tidak serius, tetapi joke-joke ini ternyata memang sangat efektif dan kita bisa mengambil banyak pelajaran darinya.

Sunday, March 25, 2012

Lawrence Kohlberg, Inisiator Pendidikan Karakter yang Mati Bunuh Diri

Selasa, 04/10/2011 12:34 WIB | Arsip | Cetak


“Lihat tuh negara Barat, kotanya Indah, masyarakatnya disiplin, transportasi berjalan lancar, beda dengan negara-negara muslim. Jadi mana yang lebih Islami, Barat atau kita?”
Ucapan diatas dikatakan salah seorang guru kepada muridnya beberapa waktu lalu. Berdiri di depan kelas, ia secara bersemangat membandingkan pola kehidupan masyarakat Barat dan Timur (baca: Islam) yang terlihat begitu kontras. Untuk menguatkan apa yang dilihatnya, sang guru pun memutar slide foto pasca pengembaraanya ke Amerika, lalu bertanya kepada para muridnya, “Bersih mana dengan Jakarta?”
Nama Lawrence Kohlberg mulai melambung di tengah-tengah masyarakat setelah gagasan Pendidikan Karakter meledak di pasaran edukasi. Dalam konsep itu, Kohlberg menekankan rasa kejujuran, tanggungjawab, dan kepercayaan diri bagi siswa untuk mengatasi masalah.