Select Language

Saturday, March 24, 2012

Merisaukan Kematian

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya jualah akan kembali”.

Seminggu ini benar-benar diliputi suasana duka dengan meninggalnya dua orang keluarga sekaligus. Seorang di Johor Malaysia dan satu lagi di Majene Sulawesi Barat, Indonesia. Keduanya bukan saja panutan dalam keluarga, tapi juga cerminan dua generasi tua dan muda yang memiliki andil cukup besar dalam perhubungan sosial masyarakat. Satunya merupakan tokoh yang dituakan di kalangan masyarakat perantauan Bugis-Mandar di Johor, seorang lagi birokrat tulen dan sedang menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Majene yang berdomisili di tanah Mandar.

Kematian memang tidak mengenal pandang bulu. Tua atau muda, berpangkat atau tidak, semuanya akan melaluinya dengan beragam proses.  Bagaimanapun jalan dan proses kematian itu intinya membawa pesan bahwa rumus kematian yang sudah dimateraikan Tuhan sungguh benar adanya, tanpa memperhatikan betapa risaunya keadaan diri, keluarga, yang ditinggal pergi. Benarkah kematian membawa kerisauan?

Jawabannya bergantung kepada bagaimana kita melihat kematian itu sendiri. Sejatinya, kerisauan yang terlampau mendalam terhadap kematian menandakan watak diri seseorang yang lemah. Memang rasa risau itu adalah sifat alamiah manusia yang mustahil dapat dibuangnya dengan mudah, karena sangat berkait rapat dengan perasaan dan naluri manusia. Lainlah halnya jika kita ini seorang manusia robotik yang tidak berperasaan.

Jika kita merisaukan sesuatu, itu tandanya kita masih punyai emosi dan perasaan. Namun jika kita biarkan kerisauan itu menguasai diri, tentunya akan mencipta benih-benih kemurungan yang akan menghapuskan segala kegembiraan. Risau itu juga seperti pisau, boleh menghiris selaput ketenangan jiwa manusia.

Apabila kita risau, jiwa kita tidak tenteram dan kita hilang ketenangan. Kita resah gelisah dan perasaan itu memang membawa susah. Segala-galanya serba tidak mengenakkan. Dalam satu penelitian, kononnya jangka hayat orang yang selalu gelisah ini adalah lebih pendek usianya.

Oleh itu, jika kerisauan melanda, jangan kita layan. Mintalah pada Tuhan agar kita diberikan ketenangan, semoga dipermudahkan segala urusan. Itu yang pertama. Seterusnya, kerisauan itu datangnya dari fikiran dan pemikiran yang negatif. Apabila bersangkut paut dengan fikiran, maka kita boleh mengawalnya. Berfikirlah secara positif dan carilah kegembiraan dalam diri kita. Imbas kembali memori manis kita selama ini. Fikirkan hal-hal yang indah lagi mengasyikkan. Berfantasilah, kerana asal realitas itu pada fantasi. Terjemahkan kegembiraan alam fantasi ke alam realitas.

Anda sedang membaca artikel tentang Merisaukan Kematian dan anda bisa menemukan artikel Merisaukan Kematian ini dengan url https://hasyimustamin.blogspot.com/2012/03/risau-duka-lara.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Merisaukan Kematian ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Merisaukan Kematian sumbernya.

No comments: